Gelar Kiyai yang kini banyak digunakan oleh pemimpin spiritual dari saudara-saudara kita umat Islam di Indonesia ternyata lebih dahulu atau pertama kali digunakan di Bali.
Ini terungkap dari sejarah yang tercantum antara lain pada 'Purana Pura Besakih' di mana pada bulan Juli tahun 1335 Raja Sri Aji Gajah Waktra melantik di Pura Besakih para pembantu Raja yang disebut 'Manca' (setingkat Gubernur sekarang) beragama Siwa-Budha, dengan gelar Kiyai. Beliau para Manca itu, antara lain: Kiyai Agung Pangeran Tohjiwa, Kiyai Agung Smaranatha, Kiyai Pangeran Bendesa Mas, dan Kiyai Agung Kubayan.
Ketika Majapahit menyerang dan menguasai Bali pada tahun 1343 Masehi, gelar-gelar Kiyai bagi pejabat-pejabat Manca masih diteruskan, misalnya: Kiyai Pangeran Tangkas, Kiyai Lurah Abian Tubuh, Kiyai Lurah Karang Abian, Kiyai Wayahan Waringin, Kiyai Candigara, Kiyai Jaya Paguyangan, Kiyai Lurah Kebon Kelapa, Kiyai Wayahan Sanggara, Kiyai Alit Nagara, dll. Gelar Kiyai di Bali terakhir digunakan oleh Raja Buleleng: Kiyai Anglurah Panji Sakti (abad ke-17).
Ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia adalah budaya campuran dari berbagai etnis, suku, dan agama. Maka oleh karena itu kita patut memberi hormat yang tinggi kepada para pendiri NKRI karena telah menggunakan slogan persatuan: Bhineka Tunggal Ika, yang juga selogan ini dikutip sebagian dari kekawin Sutasoma, lengkapnya: Bhineka Tunggal Ika tan hana dharma mangruwa.
Oleh: Bhagawan Dwija
http://stitidharma.org
Ini terungkap dari sejarah yang tercantum antara lain pada 'Purana Pura Besakih' di mana pada bulan Juli tahun 1335 Raja Sri Aji Gajah Waktra melantik di Pura Besakih para pembantu Raja yang disebut 'Manca' (setingkat Gubernur sekarang) beragama Siwa-Budha, dengan gelar Kiyai. Beliau para Manca itu, antara lain: Kiyai Agung Pangeran Tohjiwa, Kiyai Agung Smaranatha, Kiyai Pangeran Bendesa Mas, dan Kiyai Agung Kubayan.
Ketika Majapahit menyerang dan menguasai Bali pada tahun 1343 Masehi, gelar-gelar Kiyai bagi pejabat-pejabat Manca masih diteruskan, misalnya: Kiyai Pangeran Tangkas, Kiyai Lurah Abian Tubuh, Kiyai Lurah Karang Abian, Kiyai Wayahan Waringin, Kiyai Candigara, Kiyai Jaya Paguyangan, Kiyai Lurah Kebon Kelapa, Kiyai Wayahan Sanggara, Kiyai Alit Nagara, dll. Gelar Kiyai di Bali terakhir digunakan oleh Raja Buleleng: Kiyai Anglurah Panji Sakti (abad ke-17).
Ini menunjukkan bahwa budaya Indonesia adalah budaya campuran dari berbagai etnis, suku, dan agama. Maka oleh karena itu kita patut memberi hormat yang tinggi kepada para pendiri NKRI karena telah menggunakan slogan persatuan: Bhineka Tunggal Ika, yang juga selogan ini dikutip sebagian dari kekawin Sutasoma, lengkapnya: Bhineka Tunggal Ika tan hana dharma mangruwa.
Oleh: Bhagawan Dwija
http://stitidharma.org
0 komentar:
Post a Comment